Kritik Film Istimewa
Saya datang ke bioskop dengan rasa penasaran. Bagaimana rasanya menonton film Indonesia yang memberikan posisi utama kepada aktor penyandang disabilitas, bukan sekadar menjadikan mereka karakter pendukung?
Pertanyaan itu langsung muncul ketika saya mengetahui tentang Istimewa, film drama keluarga Indonesia terbaru garapan sutradara Ruben Adrian yang mulai tayang di bioskop pada 17 September 2026.
Film Istimewa punya satu pencapaian yang menurut saya penting untuk dicatat. Film ini menempatkan enam anak penyandang disabilitas sebagai pemeran utama yang menggerakkan cerita. Mereka bukan sekadar hadir untuk memperkuat pesan moral, tetapi menjadi karakter yang kita ikuti sepanjang perjalanan film.
Bagi industri perfilman Indonesia, langkah ini tentu layak diapresiasi.
Namun setelah menonton filmnya, saya merasa ada satu pertanyaan yang juga perlu dibicarakan. Apakah memberikan ruang kepada aktor penyandang disabilitas sebagai pemeran utama sudah otomatis berarti representasinya berhasil?
Menurut saya, belum tentu.
Walaupun punya niat yang sangat baik, tetapi menurut saya masih memiliki beberapa pekerjaan rumah dalam hal cerita dan cara membangun emosinya.
Sinopsis Film Istimewa Tentang Keluarga dan Kehilangan
Kisahnya seputar karakter Aldo, Bimo, Ken, Nita, dan Mul yang tinggal bersama di sebuah tempat yang mereka sebut Rumah Istimewa. Mereka mendapatkan kasih sayang dari Mbak Kinan dan Pak Mahendra, sosok ayah yang sangat mereka hormati.
Kelima anak tersebut merasakan bagaimana Pak Mahendra bukan hanya seseorang yang merawat mereka. Ia sudah menjadi keluarga dan tempat mereka merasa aman.
Semua berubah ketika Pak Mahendra mengetahui dirinya menderita kanker stadium lanjut, karena tidak ingin anak anak tersebut melihat dirinya semakin lemah, ia memilih pergi secara diam diam.
Keputusan tersebut justru membuat anak anak itu kehilangan sosok yang selama ini menjadi tempat mereka pulang. Mereka kemudian melakukan perjalanan untuk mencari Pak Mahendra.
Secara cerita, konfliknya sebenarnya sederhana. Berbicara tentang keluarga, kehilangan, rasa takut ditinggalkan, dan keinginan untuk menemukan kembali seseorang yang sangat berarti.
Ini kekuatan emosional film sebenarnya sudah ada di sini.
Aktor Mathias Muchus yang memainkan karakter Pak Mahendra memberikan fondasi emosional yang cukup kuat dalam film ini, karena  Mahendra bukan sosok ayah yang sempurna. Ia juga memiliki ketakutan dan mengambil keputusan yang menurutnya paling baik untuk melindungi anak anak yang disayanginya.
Masalahnya, keputusan yang dibuat karena rasa sayang tersebut justru membuat mereka merasa ditinggalkan.
Sisi ini menarik karena film menunjukkan bahwa seseorang dapat mengambil keputusan dengan niat baik, tetapi tetap memberikan dampak yang menyakitkan bagi orang lain.
Relasi hubungan Pak Mahendra dengan anak anak juga membuat film ini tidak hanya berbicara tentang disabilitas. Film ini sebenarnya berbicara tentang keluarga dan rasa kehilangan yang bisa dialami siapa saja.
Keberanian terbesar adalah memberikan ruang kepada para pemeran penyandang disabilitas untuk menjadi bagian utama dalam sebuah film layar lebar. Ini bukan hal kecil.
Selama ini, representasi penyandang disabilitas dalam film sering kali masih berada di posisi sebagai karakter pendukung atau bagian dari cerita yang membuat karakter lain belajar mengenai kehidupan.
Istimewa mencoba mengubah posisi tersebut. Hal ini penting karena pembicaraan mengenai representasi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah penyandang disabilitas muncul di layar atau tidak.
Pertanyaan berikutnya adalah apakah mereka mendapatkan kesempatan untuk menjadi pusat cerita dan ini membuka pintu yang penting untuk perfilman Indonesia.
Sangat berharap kesempatan seperti ini tidak berhenti pada satu film.
Lebih jauh lagi, saya ingin melihat aktor penyandang disabilitas mendapatkan kesempatan memainkan berbagai jenis karakter. Mereka tidak harus selalu mendapatkan peran dalam cerita tentang disabilitas.
Terbuka juga untuk bisa bermain dalam drama keluarga, komedi, horor, action, thriller, atau genre lain yang sama sekali tidak membahas kondisi mereka , karena pada akhirnya, mereka adalah aktor.
Kritik Film Istimewa: Ketika Emosi Terasa Terlalu Dipaksakan
Menyukai pesan yang ingin disampaikan, tetapi menurut saya pesan yang baik belum tentu otomatis membuat sebuah film menjadi kuat secara keseluruhan.
Beberapa bagian cerita terasa terlalu berusaha membuat penonton emosional. Konflik datang secara bertahap dengan berbagai situasi yang semakin berat sehingga pada beberapa bagian saya merasa film seperti sedang mengatakan kepada penonton bahwa kita harus merasa sedih.
Bagaimanapun film ini sebenarnya tidak perlu bekerja sekeras itu.
Patut digarisbawahi relasi hubungan antara anak anak dengan Pak Mahendra sudah cukup kuat untuk membuat penonton merasa kehilangan ketika sosok tersebut pergi.
Alhasil, ketika sebuah film terlalu sering mendorong emosi penonton, perasaan yang seharusnya muncul secara alami justru bisa terasa dibuat buat. Di sinilah saya merasa naskah film Istimewa memiliki pekerjaan rumah, yaitu jangan sampai disabilitas hanya menjadi sumber rasa haru.
Ini bagian yang paling penting dari kritik saya terhadap film ini
Pendapat saya, film tentang disabilitas tidak harus selalu membuat penonton menangis. Kalau setiap karakter penyandang disabilitas selalu ditempatkan dalam situasi sulit, kemudian penonton diarahkan untuk merasa kasihan, representasi yang ingin dibangun justru bisa kembali kepada pola lama.
Mereka akhirnya dilihat sebagai seseorang yang harus dikasihani. Padahal manusia jauh lebih kompleks daripada itu.
Manusia itu boleh sekali marah, bercanda, memiliki ambisi, membuat kesalahan, merasa kecewa, memiliki impian, menyebalkan, menyenangkan, dan menjalani kehidupan sehari hari seperti manusia lainnya.
Entah mengapa, justru ingin melihat lebih banyak adegan dalam film ketika para karakter tersebut hanya menjadi anak anak yang sedang menikmati kehidupan mereka. Ketika mereka bercanda, saling mengganggu, memiliki perbedaan pendapat, dan menghabiskan waktu bersama Pak Mahendra.
Tidakkah momen seperti itu justru membuat mereka terasa lebih manusiawi? Mereka tidak sedang dijadikan simbol, sebuah alat untuk membuat penonton menangis. Namun hanya sedang menjalani hidup.
Film ini membuka pembicaraan mengenai kesempatan kerja bagi aktor penyandang disabilitas dan bagaimana industri perfilman seharusnya menciptakan ruang yang lebih inklusif. Tetapi langkah berikutnya juga harus lebih jauh. Jangan sampai inklusivitas hanya menjadi tema yang digunakan ketika film sedang dipromosikan.
Inklusivitas seharusnya hadir dalam proses produksi, kesempatan kerja, pemilihan pemain, sampai bagaimana karakter tersebut ditulis, karena representasi bukan hanya soal siapa yang terlihat di layar. seharusnya menjadi representasi juga tentang bagaimana seseorang digambarkan ketika mereka berada di layar.
Jadi saat keluar dari bioskop bukan hanya memikirkan kisah Aldo, Bimo, Ken, Nita, dan Mul, malah kemudian memikirkan apa yang akan terjadi setelah film ini.
1.Apakah industri akan kembali memberikan kesempatan kepada aktor penyandang disabilitas?
2.Apakah mereka akan mendapatkan karakter yang lebih beragam?
3.Apakah suatu hari nanti kita bisa melihat aktor penyandang disabilitas bermain dalam film tanpa menjadikan kondisi mereka sebagai pusat cerita?
Opini saya, itulah tantangan berikutnya, karena representasi terbaik bukan ketika kita melihat seorang aktor penyandang disabilitas di layar dan kemudian menyatakan mereka adalah aktor sesungguhnya melalui peran yang tak mewakili diri mereka secara individual.
Pemain Utama: Mathias Muchus, Yanni Melwani, Ajil Ditto, Zulfadli Aldiansyah (Aldi), Bambang Ceper (Bimo), Rein (Ken), Niatus Sholihah (Nita), dan Maxime Mustofa (Mul)
