HomeAwardsFilm Pilihan Juri Belum Tentu Sama? Begini Cara Juri Seleksi FFW 2026...

Film Pilihan Juri Belum Tentu Sama? Begini Cara Juri Seleksi FFW 2026 Menentukan Nominasi

Film yang ramai dibicarakan belum tentu otomatis masuk nominasi.

Sebaliknya, film yang tidak terlalu viral bisa saja punya kualitas yang membuat juri jatuh hati.

Nah, perbedaan perspektif inilah yang menjadi bagian menarik dari proses seleksi Festival Film Wartawan Indonesia (FFW) 2026.

Para juri seleksi FFW 2026 berkumpul di Dapur Mamah Lya, Selasa (20/10/2026), untuk membahas film dan unsur perfilman yang layak masuk daftar nominasi.

Diskusinya bukan sekadar menentukan film mana yang paling disukai, tetapi juga menguji alasan di balik setiap pilihan.

Karena dalam dunia penjurian, suka atau tidak suka saja jelas belum cukup.

Satu Film, Banyak Sudut Pandang

Setiap film punya keunggulan masing masing. Ada yang kuat dari ceritanya, ada yang berhasil lewat penyutradaraan, dan ada pula yang mencuri perhatian berkat akting para pemainnya.

Belum lagi unsur lain seperti skenario, sinematografi, penyuntingan, tata artistik, serta aspek teknis yang ikut membentuk pengalaman menonton.

Persoalannya, apakah semua juri akan memberikan penilaian yang sama terhadap sebuah film?

Belum tentu.

Satu karya bisa menjadi pilihan utama seorang juri, tetapi bagi juri lain mungkin ada film berbeda yang dianggap lebih menonjol. Perbedaan ini wajar karena setiap juri membawa pengalaman, perspektif, dan pertimbangan masing masing.

Di sinilah diskusi menjadi penting. Setiap pilihan perlu punya alasan yang kuat, bukan hanya karena filmnya populer, pemainnya terkenal, atau sedang ramai dibicarakan di media sosial.

Intinya, yang diuji bukan cuma filmnya, tetapi juga argumentasi di balik pilihan para juri.

Sepakat Bukan Berarti Harus Selalu Sejalan

Ada satu hal menarik dalam proses ini, yaitu konsep sepakat untuk bersepakat.

Kedengarannya sederhana, tetapi praktiknya tidak selalu mudah. Para juri tidak harus memiliki pendapat yang sama sejak awal. Justru, perbedaan pandangan membuka ruang untuk melihat sebuah film dari sudut yang mungkin sebelumnya terlewatkan.

Lewat diskusi, setiap pilihan bisa dipertanyakan, dibandingkan, dan dipertimbangkan kembali berdasarkan kualitas karya.

Namun, ada batas yang perlu dipahami. Tugas juri seleksi adalah menentukan film dan unsur perfilman yang layak masuk nominasi, bukan menetapkan siapa yang akhirnya membawa pulang penghargaan.

Karena itu, independensi, ketelitian, dan integritas menjadi bagian penting dari proses seleksi FFW 2026.

Film yang Menang Piala Belum Tentu Jadi Favorit Semua Orang

Pernah merasa film favoritmu justru tidak masuk nominasi? Atau malah heran ketika film yang tidak kamu perhitungkan ternyata mendapat banyak pengakuan?

Pengalaman seperti itu menunjukkan bahwa cara penonton menikmati film bisa berbeda dari cara juri menilainya.

Bagi penonton, film terbaik mungkin adalah film yang membuat mereka menangis, tertawa, merinding, atau terus memikirkannya setelah keluar dari bioskop. Ada pula film yang terasa sangat personal karena ceritanya dekat dengan kehidupan mereka.

Sementara itu, juri seleksi memiliki tanggung jawab untuk mempertimbangkan kualitas film dan unsur perfilman berdasarkan proses penilaian mereka.

Bukan berarti pengalaman penonton tidak penting. Justru, perbedaan perspektif antara juri dan publik bisa membuat percakapan tentang film Indonesia semakin menarik.

Daftar nominasi juga dapat menjadi kesempatan bagi penonton untuk menemukan film yang mungkin sebelumnya terlewatkan, lalu menontonnya dengan perspektif baru.

Beda Pilihan, Tetap Punya Tanggung Jawab

Pertemuan juri seleksi FFW 2026 tersebut turut dihadiri Ketua FFW Benny Benke, Ketua Humas FFW Irish Riswoyo, Ketua Bendahara Sandhy Gasela, serta anggota Juri Akhir Didang Praja Sasmita.

Diskusi ini menegaskan bahwa menentukan nominasi bukan pekerjaan yang sesederhana menyusun daftar film favorit. Ada proses mempertimbangkan kualitas, menguji argumentasi, dan mencari kesepahaman di tengah perbedaan.

Pada akhirnya, nominasi yang baik bukan hanya soal nama siapa yang berhasil masuk daftar, tetapi juga tentang alasan mengapa karya tersebut layak mendapat perhatian.

Sebab, film tidak selalu harus disukai semua orang untuk bisa diapresiasi kualitasnya.

Sepakat untuk bersepakat bukan berarti semua orang harus punya pilihan yang sama. Yang penting, setiap pilihan punya alasan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Nah, kalau menurut kamu, apakah film favorit penonton dan pilihan juri memang harus selalu sejalan?

 

Catatan:

Komposisi Juri Akhir FFW 2026 mempertemukan pengalaman jurnalistik, kritik film, pengamatan industri, dan kuratorial seni.

Frans Sartono, wartawan senior sekaligus kritikus film, membawa pengalaman lebih dari tiga dekade dalam membaca estetika dan kebudayaan sinema Indonesia. Pengalamannya menjadi pengingat bahwa film tidak semestinya hanya dinilai dari apa yang tampak di permukaan, tetapi juga dari gagasan dan bahasa artistik yang dibangunnya.

Susi Ivvaty, wartawan senior yang konsisten mengawal isu film, sosial, dan kebudayaan, memberi perhatian pada representasi serta persoalan kemanusiaan. Melalui perspektif semacam ini, film tidak berhenti sebagai hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk memahami manusia dan masyarakatnya.

Ada Hilmi Faiq, wartawan film yang aktif mengikuti dinamika perfilman nasional sekaligus anggota Dewan Kesenian Jakarta, memahami perkembangan produksi film, baik untuk layar bioskop maupun layanan streaming atau over-the-top (OTT).

Lalu Seno Joko Suyono, wartawan, penulis, dan kurator seni, membawa pendekatan lintas disiplin yang menghubungkan film dengan sastra, politik, dan seni rupa. Sebuah film, dalam perspektif ini, dapat dibaca bukan hanya sebagai produk tontonan, melainkan juga sebagai teks kebudayaan yang menyimpan tanda-tanda zamannya.

Sementara itu, Didang Pradjasasmita, wartawan film senior dan pengamat industri, membawa pengalaman dalam membaca ekosistem perfilman, komunitas, festival, serta berbagai dinamika yang menyertainya.

Kelima perspektif tersebut diharapkan dapat menjaga independensi, objektivitas, dan marwah FFW sebagai festival yang mengedepankan penilaian wartawan.
Namun, independensi tentu bukan sekadar kata yang terdengar gagah ketika dibacakan dalam konferensi pers.

Ia baru memiliki arti ketika seseorang sanggup menjaga jarak dari kepentingan, menahan diri dari keberpihakan, dan berani menyampaikan penilaian berdasarkan pertimbangan yang dapat dipertanggungjawabkan.

ARTIKEL SERUPA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Media Partner -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
- Advertisment -

Berita Terkini

Komentar